Dari Pembekuan Ground handling – Pengurangan Jadwal Terbang, Ada Apa Dengan Lion Air?

Selain karena masalah keamanan bagasi, baru-baru ini, dunia penerbangan Indonesia sedang digaduhkan oleh berbagai masalah. Salah satunya adalah pembekuan ground handling Lion Air dan Air Asia bulan Mei lalu. Karena masalah semacam ini belum pernah muncul sebelumnya, banyak masayarakat yang bertanya-tanya. Seperti, apa itu Ground handling? Bagaimana ketentuan Ground handling? Juga ada apa dengan maskapai penerbangan yang dibekukan Izin Ground handlingnya? Apakah tidak boleh terbang? Apakah berpengaruh pada jadwal penerbangan Lion Air dan Air Asia? Dan masih banyak pertanyaan lain yang cukup mengusik. Nah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, yuk ikuti ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Ground Handling?

Bagi orang awam, Ground handling terdengar seperti barang baru. Memang, istilah ini jarang muncul ke permukaan. Karena istilah ini memiliki kekhususan bidang yang tak semua orang berkecimpung di dalamnya. Benar, seperti yang beberapa minggu ini kita lihat dan dengar lewat media cetak maupun elektronik, Ground handling berkaitan dengan dunia penerbangan. Di Indonesia, dalam undang-undang nomor 1 tahun 2009 yang mengatur tentang penerbangan menjelaskan sedikit mengenai Ground handling ini. Apa sebenarnya Ground handling?

Ground handling, bila dilihat dari penggalan katanya memiliki dua arti. Pertama, ground. Ground berarti di darat. Dalam dunia penerbangan, di darat berarti ya bandara alias airport. Kedua, handling. Handling berasal dari kata handle yang mendapat imbuhan –ing, dimana artinya adalah menangani. Handling dalam dunia penerbangan kemudian diartikan sebagai pelayanan service to service atau penanganan. Maka pengertian Ground handling ini secara utuh adalah suatu aktivitas perusahaan maskapai penerbangan yang berkaitan dengan penanganan atau pelayanan terhadap para penumpang dan pesawat terbang yang mereka miliki selama berada dalam bandara, baik itu saat akan keberangkatan (departure) atau saat kedatangan (arrival). Pelayanan Ground handling ini bisa meliputi penanganan bagasi dan para penumpang di terminal area, pelayanan kargo dan pos di cargo area, penanganan pesawat di apron juga terkait peralatan pembantu pergerakan pesawat di bandara. Ground handling sendiri bisa disebut dengan istilah lain seperi ground operation, ground service atau juga dikenal dengan airport service. Istilah-istilah ini dinilai dari maknanya sama saja, yakni pelayanan di bandara terhadap para penumpang dan pesawat itu sendiri.

Dalam undang-undang nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan, Ground handling memiliki 3 arti yang maknanya kurang lebih sama. Yaitu sebagai berikut.

1. Pasal 232 ayat 3. Bahwa pelayanan jasa terkait bandar udara salah satunya adalah jasa terkait untuk menunjang kegiatan pelayanan operasi pesawat udara di bandar udara, terdiri atas: penyediaan hanggar pesawat udara; perbengkelan pesawat udara; pergudangan; katering pesawat udara; pelayanan teknis penanganan pesawat udara di darat (Ground handling); pelayanan penumpang dan bagasi; serta penanganan kargo dan pos. Maka, menurut pasal ini, Ground handling diartikan sebagai pelayanan teknis penanganan pesawat udara di darat.

2. Pasal penjelas 131. Bahwa yang dimaksud dengan “kegiatan usaha penunjang angkutan udara” adalah kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan kegiatan angkutan udara niaga antara lain system reservasi melalui komputer (computerized reservation system), pemasaran dan penjualan tiket pesawat atau agen penjualan umum (ticket marketing and selling), pelayanan di darat untuk penumpang dan kargo (Ground handling), dan penyewaan pesawat udara (aircraft leasing). Maka, menurut pasal penjelas ini, Ground handling diartikan sebagai pelayanan di darat untuk penumpang dan kargo.

3. Pasal penjelas 303. Bahwa yang dimaksud dengan “penggunaan frekuensi radio di luar alokasi frekuensi radio penerbangan”, antara lain, untuk kepentingan pengamanan penerbangan, pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran (rescue and fire fighting), penanganan darat pesawat udara (Ground handling) dan radio link penunjang pelayanan navigasi penerbangan. Maka, menurut pasal penjelas ini, Ground handling diartikan sebagai penanganan darat pesawat udara.

Tujuan Ground Handling

Dari pengertiannya, maka diketahui bahwa kegiatan Ground Handling juga memiliki tujuan yang ingin dicapai. Bukan hanya sebuah prosedur yang ada, namun lebih jauh lagi ground handling berpengaruh pada sistem maskapai penerbangan di suatu bandara. Menurut teorinya, tujuan ground handling ini ada empat, yaitu:

1. Flight Safety

Yap, tujuan pertama dan utama pasti adalah keselamatan penerbangan. Sebagai moda transportasi yang melayang-layang di udara tanpa jalanan beraspal, prosedur atau kegiatan dalam ground handling bertujuan untuk mengupayakan keamanan sebelum, saat maupun sesudah penerbangan berjalan dengan baik.

2. On Time Performance

Tujuan kedua berpengaruh pada pengaturan performance sistem penerbangan dari maskapai penerbangan dan sistem operasional bandara. Dengan adanya kegiatan ground handling, on time performance bisa dicapai.

3. Customer Satisfaction

Kepuasan penumpang menjadi salah satu hal yang diperjuangkan para pihak maskapai penerbangan. Nah kegiatan ground handling ini salah satunya bertujuan untuk meningkatkan kepuasan penumpang. Karena kita tahu kegiatan ground handling erat kaitannya dengan penumpang itu sendiri.

4. Reliability

Dalam proses ground handling, rasa percaya antar pengguna dan penyedia jasa pasti menjadi salah satu tujuan yang diperjuangkan.

Kegiatan Ground Handling

Kegiatan ground handling dilakukan sebelum penerbangan (departure) maupun setelah penerbangan (arrival). Sebelum departure, kegiatan ground handling merupakan kegiatan penanganan penumpang termasuk bagasinya, kargo juga pos serta penanganan pesawat sebelum departure di bandara asal. Sedangkan setelah penerbangan, kegiatan ground handling merupakan kegiatan penanganan pada penumpang termasuk bagasi, kargo dan pos serta pesawat selepas penerbangan di bandara tujuan. Seluruh ruang lingkup juga obyek kegiatan graound handling harus mengacu kepada aturan yang telah ditetapkan oleh “IATA Airport Handlng Manual, 810 Annex A”. Aturan tersebut sudah menetapkan 14 section standar pelayanan atau 14 kegiatan. Adapun obyek yang ditangani oleh pada ground staff antara lain:

1. Penumpang (Pax)
2. Barang bawaan penumpang (Baggage)
3. Barang kiriman (Cargo)
4. Benda-benda pos (Mail)
5. Ramp dan aircraft

Karena inti dari ground handling adalah pelayanan, maka dalam kegiatannya di lapangan memunculkan istilah seperti: Passenger Handling, Baggage Handling, Cargo and Mail Handling serta Ramp Handling. Kemudian, Tata Operasi Darat (TOD) alias ground handling antara lain mencakup:

a. Prosedur keberangkatan dan kedatangan cargo/mail
b. Prosedur keberangkatan dan kedatangan pesawat udara
c. Lay out sebuah airport
d. Membaca ABC Guide, Time Table, Travel Information Manual (TIM)
e. Cara menghitung flight time
f. Cara memeriksa Paspor, Visa, Health Certificate, Tiket, Fiskal, Airport Tax
g. Aircraft and the positioning of the transportation equipment
h. Hal-hal yang berhubungan dengan pesawat seperti cleaning (membersihkan), catering (penyediaan makanan dan minuman), fuelling (pengisian bahan bakar), marshalling / parkir (memarkir pesawat), push back (alat pendorong pesawat), maintenance (pemeliharaan)

Bila dijabarkan lebih lanjut, kegiatan Tata Operasi Darat atau ground handling pada penumpang adalah berupa:

Jangan lupa tersedia promo dan diskon last minute dari maskapai populer Indonesia: Lion Air, Garuda Indonesia, AirAsia, Sriwijaya, Citilink, Wings Air, Batik Air.
1. Keamanan (Security)

Merupakan kegiatan yang dilakukan pada saat penumpang memasuki gerbang bandara atau pintu masuk ke bandara. Pengecekan terhadap calon penumpang dimulai dari barang bawaan hingga tiket pesawat si calon penumpang tersebut.

2. Checkin Counter

Merupakan tempat pelaporan calon penumpang yang akan bepergian dari bandara A (origin) ke bandara B (destination). Tugas yang dilakukan oleh petugas checkin counter antara lain:

a. Menyiapkan dokumen, formulir dan lainnya yang terkait dengan penumpang dan bagasi penumpang seperti connecting flight, boarding pass, special request, special information, baggage claim tag, passenger manifest (passanger name list), excess beggage ticket.

b. Mengecek dokumen perjalanan, meliputi:

  • Tiket pesawat. Dengan melihat kota tujuan (from to), flight numer, class, carrier, validity, juga booking status.
  • Kartu tanda penduduk. Memastikan identitas penumpang telah sama antara KTP dengan tiket pesawat.
  • Seat number. Mengecek apakah calon penumpang telah memesan letak tempat duduk sebelum melakukan chekin, memperhatikan apakah calon penumpang melakukan perjalanan sendiri, rombongan atau dengan keluarga.

c. Setelah dokumen perjalanan calon penumpang diperiksa, staf akan memberikan boarding pass pada calon penumpang. Boarding pass berisi informasi seperti gate numer, seat numer, time departure, class, flight numer, carrier.

3. Boarding Gate

Merupakan ruang tunggu penumpang yang akan naik ke pesawat. Saat penumpang masuk pintu masuk keberangkatan, petugas yang ada di gate akan memeriksa kembali dokumen calon penumpang. Tujuannya untuk memastikan kembali, apakah calon penumpang tersebut merupakan penumpang yang akan berangkat dengan maskapai penerbangan tersebut dan sesuai rute atau tidak. Kemudian mencocokkan seat numer penumpang yang ada didalam boarding pass atau transit card dengan information sheet, dan departure card juga dilakukan di sini.

Apa yang menyebabkan Lion Air dibekukan?

Nah dalam dunia penerbangan, setiap maskapai penerbangan harus mengantongi izin ground handling untuk dapat melaksanakan kegiatan ground handling di bandara. Bila izin Ground handling dibekukan, pasti akan menimbulkan dampak ground handling pihak maskapai terkait. Lantas apa dampaknya bila izin Ground handling dibekukan? Seperti pembekuan ground handling Lion Air juga Air Asia?

Sebelum membahas apa dampak ground handling terhadap Lion Air dan Air Asia, mari kita ulas kembali, mengapa Lion Air dan Air Asia sampai mendapat masalah terkait pembekuan izin ground handling.

Seperti yang dilansir Kompas.com, baik Lion Air maupun Air Asia sama-sama menerima surat pembekuan izin ground handling dari Kementerian Perhubungan. Hal ini didasari oleh masalah teknis yang cukup fatal. Yakni bus yang mengantar penumpang penerbangan internasional salah mengantar ke terminal domestik. Jika pihak Lion Air melakukannya di Bandara Soekarno Hatta, pihak Air Asia melakukan hal serupa di Bandara Ngurah Rai.

Detailnya, pada 10 Mei lalu, bus yang berisi penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan JT-161 dari Changi Airport, Singapura diturunkan di terminal kedatangan domestik Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Kemudian, selang 5 hari, tepatnya 16 Mei, maskapai penerbangan Indonesia Air Asia dengan nomor penerbangan QZ-509 tujuan Bandara I Gusti Ngurah Rai juga salah mengantarkan penumpanganya ke terminal kedatangan domestik. Apa akibatnya? Akibat salahnya prosedur tersebut cukup fatal. Yaitu sebagian penumpang ada yang tidak melewati proses imigrasi. Pada kejadian di Bandara Soetta, 16 dari 182 penumpang lolos dari proses imigrasi. Dan kejadian di Ngurah Rai, diketahui 47 penumpang keluar di terminal kedatangan domestik, dimana terdapat warga asing didalamnya. Nah inilah yang menyebabkan pembekuan ground handling Lion Air juga air asia dilakukan oleh pihak Kementerian Perhubungan.

Klarifikasi Pihak Lion Air Group dan Air Asia

Karena masalah ini, banyak calon penumpang yang resah karena kemungkinan adanya gagal terbang. Namun ternyata tidak. Seperti yang diberitakan kompas.com, Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air pada 18 Mei menyatakan bahwa kegiatan operasional Lion Air dipastikan akan berjalan seperti biasa walau Kementerian Perhubungan membekukan izin ground handlingnya di Bandara Soekarno Hatta. Direktur Umum Lion Air tersebut juga mengatakan bahwa Lion Air akan mempelajari isi surat pembekuan izin ground handling tersebut. Dia juga memberikan imbauan pada penumpang untuk tidak risau karena keputusan tersebut.

Demikian pula pihak Air Asia. Melalui siaran pers, Air Asia mengumumkan “Sehubungan dengan keputusan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mengenai Izin Kegiatan Pelayanan Jasa Penumpang oleh PT Indonesia AirAsia di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, kami ingin menginformasikan bahwa seluruh layanan penerbangan AirAsia dari dan menuju Indonesia tetap beroperasi dengan normal.”

Lantas apakah pengurangan jadwal penerbangan Lion Air dan Air Asia dilakukan? Jawabannya tidak. Kedua maskapai penerbangan ini sama-sama tidak mengurangi jadwal terbang. Karena dampak ground handling hanya berupa kegiatan ground handlingnya saja, tidak sampai menyentuh pembekuan rute penerbangan. Maka jadwal penerbangan Lion Air dan Air Asia sama-sama berjalan seperti biasanya. Hal tersebut diamini oleh Kepala Humas Angkasa Pura II, Agus Haryadi. Pada 19 Mei, ia mengatakan bila pernerbangan maskapai Lion Air dari Bandara Soekarno Hatta masih berjalan normal. Tidak ada penundaan penerbangan yang dilakukan terkait dengan pembekuan tersebut.

Apabila jadwal penerbangan Lion Air ke beberapa rute dikurangi, bukan karena masalah ini terjadi. Manajer PR Lion Air, Andy Saladin mengatakan bahwa penguranan frekuensi terbang ke beberapa rute saat menjelang bulan ramadan atau awal-awal bulan puasa adalah hal yang normal dilakukan oleh maskapai penerbangan. Karena periode itu adalah masa low season dimana aktivitas perjalanan dengan pesawat udara terjadi penurunan. Pengurangan frekwensi atau jadwal penerbangan tersebut sangat normal dilakukan setiap tahun oleh seluruh maskapai penerbangan.

Duuuh semoga masalah seperti ini tidak lagi terjadi ya! Karena kegaduhan semacam ini tentu membuat para calon penumpang was-was. Bahkan juga akan berpengaruh pada keamanan negara kita karena warga asing tidak melewati proses imigrasi. Bahaya kan?

Related Post