Begini Ternyata Cara Kerja Wifi di Dalam Pesawat!

Perkembangan teknologi internet yang semakin pesat dan tingginya permintaan untuk bisa mendapatkan akses internet di dalam pesawat membuat perubahan besar dalam sistem transportasi udara beberapa tahun terakhir ini. Peraturan penerbangan yang tidak boleh mengaktifkan perangkat elektronik dan alat telekomunikasi selama terbang dicoba untuk disesuaikan lagi. Hal ini pun terwujud dengan adanya fitur Wi-Fi OnBoard yang sudah diterapkan di beberapa maskapai penerbangan dunia. Bahkan di Indonesia sudah bisa ditemukan layanan In Flight Connectivity yang saat ini ada di maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan tipe pesawat Airbus 330. Jadi sebenarnya seperti apa cara kerja koneksi internet di pesawat sehingga tidak mengganggu navigasi perangkat penerbangan yang selama ini menjadi ancaman kelancaran komunikasi pesawat dengan pihak bandara? Regulasi yang tepat, alat yang terus dikembangkan, dan juga persaingan maskapai penerbangan akan membuat Wi-Fi OnBoard jadi tren baru di dunia penerbangan.

Wireless Fidelity

Koneksi internet yang disiapkan oleh maskapai penerbangan dalam setiap pesawatnya menggunakan sistem Wireless Fidelity (Wi-Fi) di mana tidak terdapat kabel untuk menyambungkan internet ke perangkat pengguna seperti laptop, komputer, atau smartphone.
wifi
Secara teknis operasional, Wi-Fi adalah salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja dengan perangkat WLAN (wireless local area network). Jadi Wi-Fi sebenarnya adalah merek dagang yang diberikan kepada perangkat internet yang bekerja di jaringan WLAN dengan kualitas dan standar yang sudah memenuhi syarat kelayakan. Proses penyebaran sinyal internet melalui Wi-Fi ini yang kemudian di implementasikan di dalam kabin pesawat dengan nama Wi-Fi OnBoard dengan bantuan provider telekomunikasi yang telah ditunjuk oleh pihak maskapai untuk menyediakan sinyal internet. Kemudian sistem di dalam pesawat di bangun untuk membuatnya lebih baik lagi dengan sistem Airline network architecture v2 system (ALNA). Penggunaan Wi-Fi di dalam pesawat hanya bisa dilakukan pada ketinggian di atas 10.000 kaki dan tidak diperbolehkan aktif saat proses take off dan landing.

Regulasi Penggunana Wi-Fi OnBoard

Meski terdengar sebagai fasilitas baru di dunia penerbangan, sebenarnya Wi-Fi OnBoard sudah diatur dalam UU No 36 tahun 199 Telekomunikasi yaitu Pasal 33 Ayat (2) yang menyebutkan bahwa penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit harus sesuai dengan peruntukkannya dan tidak saling mengganggu. Sehingga peraturan tersebut tidak akan melanggar Wi- Fi OnBoard karena sudah diatur dalam sistem yang tepat sehingga tidak saling mengganggu satu sama lain dan jelas peruntukannya, asal tidak melanggar Pasal 38 yang menyebutkan setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan gangguan fisik dan elektromagnetik terhadap penyelenggaraan telekomunikasi. Layanan tersebut tidak diperkenankan untuk digunakan pada saat pesawat dalam posisi taxi, take off, dan landing. Hal ini menjelaskan bahwa fasilitas Wi-Fi OnBoard yang ada di pesawat harus dinonaktifkan pada saat proses take off dan landing dan hanya bisa diaktifkan ketika pesawat berada di ketinggian 10.000 kaki. Di Indonesia fasilitas Wi-Fi OnBoard ini sudah mendapatkan persetujuan dari Menteri Komunikasi dan Informatika sehingga diharapkan di tahun-tahun berikutnya seluruh maskapai di Indonesia bisa memberikan fasilitas ini untuk semua rute penerbangannya.

Kelebihan dan Kekurangan Wi-Fi OnBoard

Setiap perkembangan teknologi tentu saja masih terus berlanjut tanpa ada kata sempurna. Begitu juga dengan Wi-Fi Onboard yang sekarang gencar dipromosikan oleh beberapa maskapai di Indonesia dan dunia. Ada kelebihan dan juga kekurangannya yang terus dibenahi. Kelebihan yang cukup berarti adalah kemudahan akses internet tanpa harus menggunakan kabel ke perangkat masing-masing. Gawai yang digunakan juga bervariasi yang terpenting memiliki fitur penangkap sinyal Wi-Fi. Kelemahan dari koneksi Wi-Fi yang paling sering dikeluhkan adalah mudahnya diretas untuk mencuri password pengguna. Dan tentu saja layanan Wi-Fi Onboard ini dalam beberapa penerbangan dibanderol dengan biaya yang cukup mahal untuk kuota yang minim.

Perangkat ALNA V2

Jangan lupa tersedia promo dan diskon last minute dari maskapai populer Indonesia: Lion Air, Garuda Indonesia, AirAsia, Sriwijaya, Citilink, Wings Air, Batik Air.

Untuk bisa menangkap sinyal Wi-Fi yang dipancarkan dari provider, maka setiap pesawat membutuhkan sebuah sistem yang dinamai Airline Network Architecture Version 2 System (ALNA V2 System). Sistem ini merupakan perangkat dasar yang dirancang untuk mengimplementasikan layanan Wi-Fi di dalam pesawat. Perangkat buatan Jerman ini yang akan menangkap sinyal-sinyal internet untuk kemudian dipancarkan kembali di dalam kabin pesawat dan diterima oleh gawai-gawai penumpang.

ATG dan Mode Satelit

Sebenarnya terdapat dua metode yang digunakan oleh maskapai penerbangan untuk mendapatkan sinyal Wi-Fi untuk dipancarkan kembali di dalam kabin dalam konsep Wi-Fi OnBoard. Keduanya memiliki keuntungan dan kelemahannya sendiri-sendiri dan beberapa maskapai menerapkan dua metode ini sekaligus. Metode pertama adalah Air to Ground (ATG). Metode ATG ini menggunakan dua antena yang dipasang di perut pesawat untuk menangkap sinyal dari menara seluler di daratan dan yang kedua adalah antena pemancar dari provider seluler di bumi. Ketika pesawat sudah berada dalam ketinggian tertentu dalam hal ini 10.000 kaki maka pesawat antenna di pesawat siap untuk menarik sinyal Wi-Fi dari menara seluler yang ada di daratan. Saat ini metoder ATG ini bisa mengeluarkan Wi-Fi dengan kecepatan 3 Mbps saja. Kekurangan dari metoder ATG ini adalah ketika pesawat melewati lautan atau pegunungan yang tidak terjangkau oleh antenna pemancar provider maka koneksi internet akan ikut mati atau tersendat.

Metode yang kedua adalah dengan menggunakan Satelit. Metode yang kedua ini memang memiliki koneksi yang lebih stabil dan kuat karena sinyal Wi-Fi yang diterima oleh pesawat di dapatkan dari satelit di luar angkasa. Sehingga tidak ada batasan saat melewati lautan atau pegunungan karena satelit berada di atas pesawat. Namun untuk bisa menerima sinyal dari satelit, pesawat harus memiliki 3 jenis antenna untuk menyerap sinyal Wi-Fi yatiu Ku-Band, Ka-Band, dan Ku/ka Band. Setiap antenna memiliki kecepatan yang bervariasi dalam menyerap koneksi internet dari satelit. Antenna Ku-Band mampu memberikan koneksi dengan kecepatan hingga 30-40 Mbps, untuk antenna Ka-Band mampu memberikan koneksi hingga 70 Mbps, dan antenna gabungan antara Ku-Band dan Ka-Band. Namun kecepatan yang diklaim oleh setiap antenna juga dipengaruhi oleh seberapa banyak pesawat yang menarik sinyal dari satelit tersebut. Jika semakin banyak pesawat yang menarik sinyal, maka kecepatan juga akan terbagi-bagi. Saat ini maskapai penerbangan yang sudah menggunakan antenna gabungan Ku/Ka Band adalah pesawat Airbus A320 miik Virgin America dan Airbus 350 milik Qatar Airways.

Perkembangan Wi-Fi OnBoard ini belum mencapai puncaknya sehingga diharapkan beberapa tahun ke depan peningkatan fasilitas dari segi kecepatan internet dan harga yang lebih kompetitif bisa menjadi fasilitas wajib dari setiap maskapai penerbangan di Indonesia dan dunia. Kebijakan para pengguna pun dituntut untuk menggunakan teknologi sebaik mungkin untuk kemajuan umat manusia.