Apakah Aman Menggunakan Penerbangan Low Cost Carrier?

Beberapa tahun terakhir pariwisata Indonesia semakin tumbuh berkembang seiring dengan munculnya tren penerbangan murah yang lebih dikenal dengan Low Cost Carrier. Jika mendengar Low Cost Carrier, mungkin yang terbayang di pikiran Anda adalah maskapai penerbangan Air Asia yang didirikan oleh seorang pengusaha asal Malaysia, Tony Fernandez. Sebagai pelopor konsep LCC di Asia, maskapai Air Asia menjadi salah satu Low Cost Carrier yang paling terkenal di Indonesia. Seiring tumbuhnya konsep LCC di Asia, maka muncul maskapai penerbangan lainnya yang juga mengusung konsep LCC, seperti Tiger Airways, Jetstar, Cebu Pacific Air, dan Citilink. Lantas, apakah dengan menjual harga tiket yang murah berarti mengurangi tingkat keamanan pesawat dengan konsep LCC? Bagaimana LCC bisa menjual tiket lebih murah? Simak penjelasan berikut ini.

Sejarah Low Cost Carrier di Asia

Maskapai LCC atau Low Cost Carrier adalah maskapai penerbangan yang menawarkan tarif rendah kepada customer-nya, dengan konsekuensi penghapusan atau pengurangan beberapa layanan atau fasilitas yang akan didapatkan oleh penerbangan reguler. Penerbangan dengan tipe ini juga disebut ‘Discounter Carrier‘ biasanya identik dengan bisnis jasa penerbangan yang menganut layanan “efisisen, sederhana dan ringkas”. Jenis penerbangan ini diperkenalkan di Amerika Serikat yang akhirnya diikuti oleh banyak perusahaan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Bagaimana tidak, bisnis tipe ini cukup merauk untung yang besar. Dilansir dari berbagai media, pada saat kondisi penerbangan internasional tengah mengalami krisis dengan adanya isu terorisme dan perang, jasa penerbangan dengan basis LCC masih tetap mendapatan keuntungan. Para konsumen tetap memlilih penerbangan murah untuk melakukan perjalanan walaupun dengan kondisi tersebut.

Populernya penerbangan Low Cost Carrier di Asia Tenggara dimulai saat munculnya Air Asia yang kemudian diikuti oleh maskapai lain. Maskapai penerbangan dengan konsep LCC telah beroperasi di Asia sejak tahun 2000, dan saat kini sudah ada sekitar 50 operator LCC yang telah melayani 16 negara di wilayah Asia dan Oseania. Penerbangan Low Cost Carrier kini menyumbang lebih dari 25 persen dari lalu lintas di Asia, dibandingkan saat tahun 2006 yang hanya sejumlah 9 persen. Berikut list penerbangan Low Cost Carrier yang beroperasi di Indonesia :

  • Citilink,
  • Indonesia AirAsia,
  • Lion Air,
  • Jetstar Asia Airways (subsidiary Qantas),
  • Tiger Airways (subsidiary Singapore Airlines),
  • Valuair (subsidiary Jetstar Asia Airways).

Konsep ini memang dilakukan untuk memikat konsumen untuk tetap dapat bepergian jarak jauh meski dengan biaya yang minim. Hal positif yang didapatkan masyarakat adalah mobilitas masyarakat terbantu oleh tarif tiket yang murah−walaupun dengan layanan yang minim. Terlebih beberapa tahun terakhir, dengan adanya konsep penerbangan LCC, antusias masyarakat Indonesia untuk bepergian menggunakan angkutan udara terbilang cukup tinggi. Sampai September 2013 total jumlah penumpang angkutan udara mencapai 49,08 juta orang, data ini dilansir oleh Kementerian Perhubungan Indonesia yang menjelaskan bahwa sejak 2011 sampai 2013 terjadi kenaikan persentase jumlah penumpang angkutan udara sebesar 10-15 persen untuk setiap tahunnya.

Bagaimana LCC bisa menjual tiket lebih murah?

  • Penjualan tiket hanya bisa melalui internet dan kantor ticketing.
  • Dengan menghilangkan sistem keagenan, maskapai LCC dapat mengurangi biaya fee agent. Penjualan tiket melalui internet juga membuat LCC dapat menghemat biaya lebih banyak lagi dengan sistem e-ticket yang mewajibkan penumpang mencetak tiket pesawat sendiri. Bahkan, kini beberapa maskapai penerbangan di Indonesia sudah menerapkan sistem web check-in, seperti Air Asia, Citilink, Lion Air, dan Garuda Indonesia. Biasanya, web check-in dibuka mulai 24 jam sebelum jadwal penerbangan, kecuali Air Asia yang sudah membukanya sejak 14 hari sebelum jadwal penerbangan. Kemudian, pemanfaatan teknologi dalam membangun sistem booking tiket pesawat online bagi maskapai LCC juga akan mengurangi beban penambahan karyawan yang mengurus kegiatan ground handling karena semua sudah diatur oleh sistem.

  • Dapat menyesuaikan fasilitas penerbangan sesuai kebutuhan penumpang.
  • Berbeda dengan penerbangan Full Board dengan fasilitas lengkap seperti makanan, minuman, dan hiburan selama penerbangan, maka LCC menerapkannya sebagai layanan tambahan (Additional Service). Artinya, dengan mem-booking tiket pesawat LCC, maka Anda hanya membeli bangku/seat saja. Bila ingin makan dan minum di atas kabin pesawat, tentu harus mengeluarkan biaya tambahan di luar biaya booking seat. Untuk fasilitas bagasi, setiap penumpang LCC yang telah membeli tiket pesawat mendapatkan fasilitas bagasi kabin yang dibatasi hingga 7 kg per penumpang. Jika ingin menggunakan fasilitas bagasi, maka dikenakan biaya tambahan yang ditentukan oleh maskapai. Agar tidak dikenakan biaya yang lebih tinggi saat check-in, pastikan membeli bagasi bersamaan dengan pembelian tiket.

  • Pola penerbangan point to point
  • Berbeda dengan penerbangan Full Board seperti Garuda Indonesia, penerbangan LCC hampir meniadakan konsep transit. Contohnya, maskapai penerbangan Air Asia tidak memiliki rute langsung dari Surabaya ke Phuket, maka penumpang yang ingin tetap menggunakan Air Asia harus membeli dua tiket penerbangan, yaitu Surabaya-KL dan KL-Phuket. Maka, sesampainya di Kuala Lumpur, Anda harus mengambil bagasi dan melakukan check-in kembali untuk penerbangan selanjutnya dengan rute KL-Phuket.

  • Menggunakan budget terminal.
  • Di Indonesia, budget terminal berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Budget terminal merupakan sebuah konsep yang awalnya diusung oleh Malaysia (KLIA-LCCT) dan Singapura (Changi Budget Terminal) untuk maskapai penerbangan dengan konsep Low Cost Carrier. Perbedaan antara terminal biasa dengan budget terminal adalah tidak adanya fasilitas garbarata (jembatan yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang) ataupun bus yang mengantar Anda ke terminal kedatangan. Maskapai LCC pada umumnya tidak menggunakan garbarata supaya tidak dikenai biaya oleh pihak bandara yang menyediakan fasilitas tersebut. Namun, walaupun begitu, pelayanan kepada orang yang berkebutuhan khusus seperti wanita hamil dan lansia serta fasilitas kursi roda tetap disediakan. Fasilitas umum seperti toilet, money changer, tempat ibadah, restoran juga tersedia selama 24 jam.

  • Menekan biaya dengan memilih tipe pesawat yang sama dan memberikan perbedaan harga pada penjualan posisi tempat duduk.
  • Maskapai Low Cost Carrier memakai satu tipe pesawat (AirBus/Boeing) untuk menekan biaya pemeliharaan, training, serta utilisasi yang optimal. Kemudian, dalam konsep LCC, jika ingin duduk di dekat jendela, di kursi darurat atau kursi depan, maka Anda harus membeli kursi tersebut, karena jika tidak, maka sistem akan memilihkan kursi secara acak, sehingga bisa jadi Anda tidak bisa duduk berdampingan dengan teman perjalanan Anda.

  • Optimalisasi penerbangan dan penghematan biaya akomodasi bagi kru pesawat.
  • Misalnya, penerbangan LCC jurusan Surabaya Bangkok membutuhkan waktu 3 jam 50 menit untuk sampai ke tujuan dengan sisa waktu 40 menit (turnaround time) untuk menurunkan penumpang, membersihkan pesawat, mengisi bahan bakar, dan menaikkan penumpang lagi di kota tujuan Bangkok. Maka, kru pesawat penerbangan Surabaya-Bangkok dan Bangkok-Surabaya tidak berubah, sehingga maskapai tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi hotel bagi 1 grup kru pesawat (terdiri 2 pilot dan 4 kru) yang dapat menghabiskan biaya besar.

  • Sering membuka promo tiket sejak jauh hari.
  • Apabila ingin mendapatkan harga tiket murah, pesan dan belilah tiket 6 bulan sebelum keberangkatan. Maskapai juga seringkali melakukan promo menarik yang membuat orang ingin membeli tiket pesawat saat itu juga demi menghemat biaya perjalanan, terutama untuk tiket pesawat. Dengan begitu, maskapai penerbangan akan mendapatkan uang tunai dalam jumlah besar dari promo yang menarik minat banyak orang untuk diputar dalam bisnis lainnya yang berhubungan dengan dunia pariwisata, misalnya pengembangan hotel oleh AirAsia. Selain itu, dengan penjualan tiket dari jauh-jauh hari dengan penjualan bagasi secara online, maskapai dapat memprediksi jumlah penumpang dan bagasi yang akan diangkut, sehingga bagian operasional dapat menghitung jumlah bahan bakar yang dibawa ke kota tujuan agar bahan bakar yang dipakai menjadi lebih hemat.

    Jangan lupa tersedia promo dan diskon last minute dari maskapai populer Indonesia: Lion Air, Garuda Indonesia, AirAsia, Sriwijaya, Citilink, Wings Air, Batik Air.

Bagaimana Tingkat Keamanan Pesawat LCC?

Kini harga tiket pesawatyang ditawarkan oleh maskapai penerbangan LCC semakin murah karena banyaknya maskapai yang berlomba memberikan pelayanan prima serta pembukaan rute-rute baru agar semakin memudahkan penumpang. Persaingan jadwal dalam satu rute yang sama dan banyaknya slot bangku pesawat yang terisi juga menjadi faktor penentu, sehingga harga yang ditawarkan menjadi sangat kompetitif. Namun, dengan hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 beberapa bulan lalu, membuat masyarakat bertanya-tanya apakah moda pesawat terbang dengan konsep LCC aman.

Safety dan perawatan adalah yang utama.

Walau mengoptimalisasi utilisasi pesawat, safety dan perawatan adalah hal utama yang tidak bisa ditoleransi. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya tentang bagaimana LCC bisa menjual tiket yang lebih murah, dapat diketahui bahwa penghematan yang dilakukan LCC bisa disebut untuk hal-hal tidak terlalu perlu. Hal-hal yang penting, seperti maintenance, training, dan safety, sama sekali tidak ada toleransi. Bahkan, Head of Corporate Secretary & Communications Indonesia AirAsia Audrey P Petriny menekankan, model bisnis LCC bukan berarti mengorbankan keselamatan. Menurut dia, industri penerbangan itu sangat ketat terhadap peraturan, termasuk soal keselamatan dan keamanan penerbangan. Begitu juga peraturan mengenai standar keselamatan dan keamanan yang berlaku secara internasional harus dipenuhi oleh semua maskapai. Jika tidak mematuhi aturan-aturan tersebut, maka izin terbang maskapai bisa dicabut kapanpun.

Adanya standar pelatihan yang tinggi bagi pilot.

Hal senada disampaikan Andy Arisasmita, Ketua Umum Komunitas Penerbangan Indoflyer. Menurut dia, LCC hanyalah bagian dari strategi bisnis pemasaran. Hal itu tidak ada relasinya dengan keselamatan penerbangan. Ia juga mengajak pihak-pihak yang meragukan komitmen maskapai LCC untuk memeriksa pelaksanaan pelatihan terhadap sumber daya manusianya (SDM) ataupun fasilitas pemeliharaan pesawatnya. Andy menambahkan, pelatihan di maskapai LCC mempunyai standar yang tinggi. Ia menceritakan, jika seorang kapten tidak lulus tes kecakapan yang dilakukan di simulator secara berkala, maka otomatis ia akan dilarang terbang (grounded). Sementara itu, biaya untuk pelatihan di simulator tidak murah. Semua perawatan pesawat pun dilaksanakan sesuai maintenance manual dan MEL (minimum equipment list).

Tingkat keselamatan LCC di Indonesia semakin membaik.

Sementara itu, konsultan dan pengamat dunia penerbangan Gerry Soejatman mengatakan, persepsi LCC tidak aman merupakan pendapat yang sudah kedaluwarsa 20-30 tahun lalu. Menurut dia, hal itu terbukti dengan tingkat keselamatan LCC di Indonesia yang semakin membaik dalam dua tahun terakhir. Jumlah staf yang dimiliki maskapai LCC juga dibuat seminimal mungkin, dari tingkat top management hingga karyawan kantoran biasa. Itu sebabnya struktur hierarki dalam maskapai LCC biasanya lebih ramping.

Menurut data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, saat ini terdapat 16 perusahaan angkutan udara niaga berjadwal yang beroperasi. Empat di antaranya merupakan maskapai dengan kategori LCC. LCC atau disebut juga budget airlines atau low cost carrier memang merupakan maskapai dengan strategi memperkecil biaya operasional. Efisiensi pembiayaan antara lain berupa pengurangan katering, tanpa in flight entertainment dalam pesawat, ketiadaan fasilitas lounge, penyederhanaan layanan reservasi dengan memanfaatkan teknologi informasi, pemesanan tiket melalui jaringan internet hingga tiket tanpa nomor tempat duduk penumpang.

Efisiensi biaya bukan berarti mengorbankan standar keamanan.

Beberapa ahli dalam industri juga sepakat bahwa hanya karena sebuah maskapai penerbangan berbiaya rendah, tidak berarti standar keamananannya lebih rendah. AirAsia yang telah mencapai umur 15 tahun telah mencatat rekornya sebagai maskapai penerbangan LCC dengan catatan keamanan yang bersih. AirAsia yang menggunakan tagline “We Make People Fly” ini telah berkembang dengan pesat sehingga akhirnya membuka berbagai anak perusahaan. Selain memiliki afiliasi di Indonesia, perusahaan asal Malaysia memiliki cabang di Thailand, Filipina, dan India.

Mengapa bisa terjadi musibah AirAsia QZ8501?

Saat terjadinya musibah AirAsia QZ8501, cuaca di sekitar wilayah penerbangan dalam kondisi buruk, sehingga AirAsia meminta izin untuk terbang lebih tinggi untuk menghindari awan badai. Namun, walaupun ketika itu, enam pesawat komersial lainnya yang sudah berada di wilayah udara tersebut meminta agar AirAsia tetap di tempat, pesawat AirAsia QZ8501 tetap memaksa untuk terbang lebih tinggi sehingga akhirnya terkena musibah dan hilang.

Robert Francis (mantan wakil ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS) mengatakan, “Penyebab hilangnya AirAsia QZ8501 terjadi karena ada kemungkinan bahwa partikel es yang berada di ketinggian tinggi saat awan badai menyebabkan indikator kecepatan udara tidak berfungsi”. Beliau menambahkan, “Dalam kasus seperti ini, pilot harus menerbangkan pesawat secara manual dan mengandalkan kemampuan dan pengalaman untuk membawa pesawat ke tempat yang lebih aman”. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk membenahi sistem transportasi udara secara keseluruhan, mulai dari menambah pilot yang lebih berpengalaman dan tenaga operator lalu lintas yang lebih kompeten dalam mengatur traffic penerbangan, serta meningkatkan kontrol dan pengawasan lalu lintas di udara.

Peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 tampaknya menjadi momen bagi pemerintah untuk membenahi industri penerbangan dari segi keselamatan. Salah satunya dengan membenahi peraturan terkait harga tiket pesawat. Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan sudah menandatangani peraturan tarif batas bawah yang mewajibkan maskapai menjual harga tiket minimal 40 persen dari tarif batas atas saat ini. Kebijakan tersebut diharapkan membuat maskapai lebih peduli terhadap aspek keselamatan penumpangnya. Namun, kebijakan tersebut juga sekaligus mengancam tiket murah yang biasa ditawarkan maskapai berbiaya murah atau Low Cost Carrier (LCC).

Ingin beli tiket pesawat murah? Cek saja situs https://www.tiket2.com!

Related Post